Salah Tafsir Lontar Wrti Sasana tentang Mandi

No comment 442 views

Salah Tafsir Lontar Wrti Sasana tentang Mandi

Berawal dari Komen di Media sosial yang mengutip Lontar Wrati Sesana, dimana Komentator tersebut menyebutkan Orang Bali jaman dahulu Mandi dengan melumurkan badannya dengan kotoran SAMPI (Banteng yang ditafsirkan sebagai SAPI/Lembu oleh penganut Sampradaya).

komentar nitizen tentang Lontar Wreti Sesana

dalam komentarnya, orang itu menyebutkan:

MANDI DENGAN DEBU SAPI DALAM LONTAR BRATI SASANA
Ada beberapa postingan yang menyatakan bahwa mandi (melukat) dengan debu sapi dan panca gawya (lima zat yang dihasilkan dari sapi) adalah lelucon menjijikkan, maka orang hendaknya membaca lontar Brati Sasana. Menurut lontar ini, leluhur kita dahulu rupanya terbiasa menyucikan diri dengan mandi dalam debu sapi, sebab sapi dinyatakan sebagai makhluk yang suci dalam seluruh pustaka suci Veda.
[Teks 17] “Agneya ngaran snana maka laksanam bhasma, kunang ikang baruna masilem ring wwe laksananya. Brahmya ngaran snana maka laksanam mantra. Kunang ikang wayawya ngaran snana maka laksanam sumilemaken sarira tekeng uttamangga maka nimitta welek ning lebu sangkeng sukuning lembu an ginreki lemah pawitra.”
ARTINYA:
Mandi Agneya artinya mandi dengan abu api suci (dari agnihotra, pasepan atau dupa). Mandi Baruna artinya menyelam dalam air. Mandi Brahma artinya mandi dengan mengucapkan mantra-mantra suci. Mandi Wayawya artinya melumuri badan hingga kepala dengan debu dari bekas injakan kaki sapi, yang adalah tanah yang pawitra (suci).
Jadi, jika Anda menemukan postingan di media sosial yang menyatakan bahwa mandi dengan panca gawya (lima zat yang dihasilkan oleh sapi) adalah lelucon menjijikkan, maka bacalah Lontar Wrati Sasana. Sesungguhnya, ini adalah warisan peradaban Veda dari leluhur kita sendiri, terutama dalam hal sarwaning panglukatan (jenis-jenis mandi suci).


Orang Bali yang suka membaca akan ketawa dengan kekonyolan translid dan argumen tersebut.

kekonyolan ini berawal dari alih bahasa yang dilakukan oleh seorang prabhu sampradaya yang nota bene keturunan Brahmana di Bali.

Setelah menjadi Bhakta Sampradaya, oknum Prabhu itu mencoba mengacak-acak pemaknaan manuskrip lontar tattwa di Bali. Kemudian oleh Bhakta dan simpatisan hare krishna, translid yang keliru itu dijadikan senjata untuk menyerang tatanan Hindu Bali, yang nantinya digiring untuk mengikuti doktrin Hare Krishna. Di Indonesia penggiringan opini yang menyebutkan Guru Hare Krishna, Prabhupada merupakan Titisan Sri Krishna setelah sebelumnya sebagai Caitanya Mahaprabhu yang lahir dimasa Kesultanan Islam Mughal di India.

Kelicikannya dimulai dengan menyudutkan upacara yadnya, adat dan terakhir teks wrati sasana pun dirubah artinya.

Rupanya dia (Prabhu Sampradaya) itu mencoba memberikan pembenaran terhadap mandi dengan debu dari sapi yg mungkin dilakukan oleh kelompoknya. Ingin juga merespon pertanyaan pada postingannya "leluhur mana dan dimana ada sulinggih yg mandi dengan kotoran sapi?" tapi sayang kolom komentar di non aktifkan. Seolah-olah dia menggiring agar kita juga ikut menganggap kotoran sapi lebih suci dari para sulinggih.

Lontar wrati sasana adalah teks sasana untuk seorang wrati yaitu orang yang melakukan wrata/brata. Seorang wrati menurut teks wrati sasana adalah seorang pandita, wiku.

Mari coba pelan-pelan melakukan pembacaan kembali terhadap [teks17] wrati sasana.

"Agneya nga, snana makalaksanam bhasma, kunang ikang waruna, masilem ing wai laksananya. Brahmya nga. Snana malaksanam mantra. Kunang ikang wayawya nga. Snana makalaksanam sumilemaken sarira tekeng uttamangga, makanimitta welekning lembu, sakeng suku ning lembu, an ginerek ing lemah pawitra." (wrati sasana, Dinas Kebudayaan Prov Bali)

Agneya ialah penyucian dengan sarana abu suci, adapun waruna adalah (penyucian) dengan cara menyelam dalam air. Brahmya ialah penyucian dengan cara mantra. Adapun wayawya adalah penyucian dengan sarana membenamkan diri dalam air sampai kepala KARENA pusaran debu, DARI kaki sapi yang dihalau di tanah yang suci.

Upaya pembelokan arti dilakukan dengan mengubah arti kata :

  1. SUMILEMAKEN seharusnya menenggelamkan diri (silakan cek Kamus Bahasa Jawa Kuna - Indonesia, berasal dari kata silem, sumilem) dirubah menjadi MELUMURI.
  2. MAKANIMITTA yang seharusnya berarti sebab, lantaran (silakan Cek Kamus Bahasa Jawa Kuna -Indonesia) dirubah menjadi DENGAN.

Kebohongan dan upaya tendensius dalam menterjemahkan seperti ini berakibat fatal, karena arti yang seharusnya "membenamkan diri dalam air sampai kepala KARENA pusaran debu, DARI kaki sapi" berubah jauh menjadi "melumuri badan hingga kepala dengan debu dari bekas injakan kaki sapi"

Ini adalah persoalan serius dalam menterjemahkan teks, sehingga sampai hari ini masih menunggu Prabhu itu mengirimkan fotonya saat melumuri seluruh badan serta wajahnya dengan debu ataupun kotoran sapi.

bila diselami lebih dalam, pemaknaan teks lontar akan menuju ranah filsafat, bukan arti leterlek-nya. karena yang dibahas dalah lontar tattwa yang dipelajari oleh orang yang berpengetahuan tinggi (wiku).

mari kupas pelan-pelan arti dari sloka tersebut:

Agneya (api suci) maka (merupakan) laksana (prilaku) bhasma (abu dalam artian sisa yadnya, bukan debu abu pembakaran sampah sisa upacara namun jalan akhir setelah sepenuhnya melaksanakan yadnya, maka itulah yang disebut SISA YADNYA (abu yadnya). Dalam Bhagawad Gita juga menyebutkan hal serupa. Dimana yang boleh kita konsumsi adalah Sisa Yadnya, namun dalam konteks Karmayoga, yang bermakna sisa dari segala kegiatan kita sendiri, baik itu berupa gaji ataupun dalam bentuk hal lainnya.

Kunang ikang (adapun) baruna (penguasa lautan) masilem (menyelam) ring (di) wwe laksana (prilaku laksana air). maknyanya berprilakulah lembah lembut, rendah hati dan bijaksana. bukan mandi air di sungai ataupun mandi kembang seperti ritual umumnya.

Brahmya (brahma) ngaran (merupakan) srana (sarana) maka laksana mantra (dengan prilaku dalam mantra suci).

Kunang ikang (adapun) wayawya, ngaran (adalah) srana (sarana) laksana (prilaku) sumilemkan (menenggelamkan) Sarira (tubuh) tekeng (hingga) uttamangga (tubuh yang utama? untuk pemahaman awal bisa dibaca tentang panca maya kosa), Sakeng sukuning lembu (injakan kaki lembu). dalam literatur weda, lembu melambangkan pengetahuan. jadi bukan lembu dalam wujud hewan. Menyembah lembu bukanlah menyembah hewan, namun mengutamakan logika pengetahuan sastra suci. minum kencing lembu bukanlah minum kencing hewan, namun mengkonsumsi sari pati sastra sehingga dapat melepaskan dahaga, panasnya kehidupan. begitupula melumurkan diri/upacara dengan kotoran lembu, bukannya menggunakan TAI hewan, namun sisa dari pemanfaatan rituallah sebagai pembersih tubuh dan sarana ritual agama. jadi membasuh dengan bekas injakan lembu bermakna belajar sampai tuntas di sekolah (asram/pasraman) bukan mandi debu di jalanan yang sudah diinjak oleh hewan sampi.

karena tingginya makna sebuah filsafat tattwa, itulah sebabnya, setiap yang bertanya tentang tattwa akan dijawab MULE KETO apabila lawan bicaranya belum cukup mapan pengetahuannya dalam menelaah isi sastra.

author