Sulinggih

No comment 385 views
Sulinggih,5 / 5 ( 1votes )

Sulinggih

Sulinggih merupakan sebutan bagi Pandita, Brahmana Warna di Bali, yang umumnya menapaki tahap Sanyasin/Bhiksuka Asrama. Sulinggih memiliki akar kata Linggih yang artinya duduk, posisi, tempat. Kata Linggih ini diberi awalan SU yang bermakna baik. Jadi secara leterlek Sulinggih artinya "berada di posisi yang baik". Makna posisi yang baik ini merupakan simbolisasi "orang yang berperilaku suci".

Perilaku itu berhubungan dengan kegiatan, aktifitas, sikap dan tindak-tanduk yang bisa diamati. Prikalu inilah yang dapat dijadikan tolok ukur tingkat pemahaman seseorang terhadap sebuah pengetahuan (ajaran) yang dipelajarinya. Perilaku suci seorang sulinggih dipengaruhi oleh pengetahuannya tentang kesucian. Dengan demikian pengetahuan kesucian itu dipergunakan untuk menghadapi kehidupan yang suci sebagai Brahmana. Pengetahuan kesucian ini juga disebar luaskan kepada masyarakat agar berperilaku suci.

Prilaku Suci Sulinggih ini tentunya mengandung 3 aspek kesucian yang berakar pada "Tri Kaya Parisudha", yakni aspek sikap (kayika), seorang brahmana harus bersikap suci; aspek ucapan (wacika), seorang brahmana harus memiliki tutur kata yang lebut; dan aspek pikiran (manacika) berhati suci, tiada pikiran yang dikontaminasi dengan kekotoran hati. Hatinya harus suci, pikirannya harus selalu positif. Disamping itu Prilaku suci berkaitan dengan "Yamabrata", tidak menyakiti baik lewat ucapan maupun perbuatan (ahimsa); selalu belajar dan mengontrol nafsu seksual (brahmacari); memiliki integritas, keselarasan antara ucapan, perbuatan dan pikiran (satya); cinta perdamaian (awyawaharika); jujur (astenya) serta "Niyamabrata", mampu mengontrol amarah (akroda); hormat dan patuh pada guru (guru Susrusa); menyucikan diri lahir dan batin (sauca); sederhana dalam menjalani hidup (aharalagawa); dan tidak sombong (apramada).

Srutyuktah paramo dharmastatha smrtigato parah,
sista carah parah proktas trayo dharmah sanatanah

Sarasamuscaya 40

Artinya: Maka yang patut diingat adalah, segala apa yang diajarkan oleh Sruti dan Smerti , demikian pula tingkah laku Sang Sista (Pandita) seharusnya: jujur, setia pada kata-kata, dapat dipercaya, orang yang menjadi tempat penyucian diri, dan orang yang memberi ajaran-ajaran
(nasehat).

Sulinggih juga disebut Sang Dwijati karena telah lahir dua kali; kelahiran pertama dari rahim Ibu, sedangkan kelahiran kedua dari Weda. Kelahiran kedua ini terlaksana dalam proses Diksa yang diselenggarakan oleh Nabe sebagai Guru Putra.

Sulinggih disebut Sang Sadaka karena yang sudah melaksanakan/ merealisasikan sadhana sehari-hari. Pengertian sadhana seperti yang tertulis dalam Lontar Wrehaspati Tattwa adalah tiga jalan menuju Sang Hyang Wisesa Paramartha, yaitu Yoga yang terdiri dari:

  1. Jnanabhyudreka (mengerti ajaran tattwa),
  2. Indriyayogamarga (tidak terikat oleh indra),
  3. Tresnadosaksaya (dapat menghilangkan pahala perbuatan).

Fungsi dan Kewajiban Sulinggih

Sulinggih tidak bisa lepas dari dunia “belajar” dan “mengajar” atau dunia pendidikan. Seorang Sulinggih haruslah memiliki Griya sebagai sarana melakukan kegiatan spiritual dan tempat melakukan proses pendidikan (Pasraman). Sulinggih harus tetap belajar dan juga mendidik masyarakat. Ukuran keberhasilan Sulinggih tidak tepat jika dilihat dari frekuensinya “muput upacara”. Pekerjaan muput bukan pekerjaan pokok seorang sulinggih. Tugas Sulinggih “ngelokapalasraya” intinya adalah membantu manusia agar senantiasa ada di jalan dharma. Jadi bukan hanya muput karya.

Sulinggih menjadi sandaran umat untuk mohon bantuan dalam hal kehidupan keagamaan pada umumnya, tempat untuk minta petunjuk, seperti bagaimana tata cara mendirikan Pura, mendirikan rumah, menentukan hari-hari baik untuk sesuatu kegiatan dan lain-lain. Dengan kata lain sulinggih adalah seorang pendidik. Karenanya, sulinggih mampu memberikan dharmawacana tentang dasar tattwa, etika dan upacara/upakara dari upacara yang dilakukan.

Sulinggih sebagai “Sang Satyawadi” yang senantiasa berbicara berdasarkan kebenaran dalam menyampaikan sesuatu kepada masyarakat, menjadi guru teladan yang dijadikan contoh dalam kehidupan sosial keagamaan. Satya Vadi berarti mewartakan kebenaran dan mengatakan yang benar dengan jujur, hal ini tersurat dalam kekawin Nitisastra 6.2: tidak ada kewajiban yang lebih baik dari pada kebenaran, wajiblah orang itu berusaha menepati kebenaran. Tiada kawah yang lebih mengerikan dari pada hukuman si pembohong. Oleh karena itu janganlah berbohong karena Dewa Agni, Surya, Chandra, Yama dan Bayu menjadi saksi ketiga jagad ini. Jika ingin dipuji seluruh dunia maka berkatalah yang benar bahkan sampai ajal menjemput.

Sulinggih sebagai “Sang Apta” yang dipercaya umat karena selalu berkata benar (Pendidik kebenaran). Oleh karena itu seorang sulinggih menghindari memperoleh kata-kata kasar dari seseorang. Untuk itu seorang sulinggih harus mampu memahami hakekat kebenaran. Kebenaran harus disampaikan dengan kebijakan. Kebenaran yang jika disampaikan akan menimbulkan gejolak dan caci maki maka maka solinggih harus mencari strategi komunikasi untuk menyampaikan. Kekerasan dan paksaan bukanlah cara yang tepat digunakan berkomunikasi. Oleh karena itu seorang sulinggih sebenarnya adalah pendidik “strategi berkomunikasi”. Seorang sulinggih juga “pendidik moralitas yang luhur” dan “pendidik Welas Asih” seperti dijelaskan dalam Bhagawad Gita 12.13 bahwa Dia yang tidak membenci segala mahluk, memiliki sifat bersahabat dan penuh cinta kasih, bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka dan rela memaafkan. Seorang yang telah menekuni dunia spiritual maka dia harus mampu mengajarkan cara mengekang hawa nafsu untuk mencapai kehidupan bahagia sekala niskala, karena yang dijadikan pegangan oleh umat kebanyakan adalah seseorang yang telah terjun dalam dunia spiritual, dan orang yang memiliki talenta yang kuat dalam menjalankan hidup ini agar tidak terjebak dalam dunia yang penuh dengan kesengsaraan.

Sulinggih sebagai “Sang Patirtan” yang dijadikan tempat memohon penyucian diri oleh umat. Oleh karena itu seorang sulinggih adalah “pendidik penyucian diri” menuntun umat untuk selalu hidup suci agar terhindar dari perbuatan yang tercela untuk menciptakan hidup yang bahagia. Untuk bisa mendidik msyarakat tentang kesucian maka seorang sulinggih harus selalu berpegang pada kode etik pandita yang dijabarkan dengan brata dan sesana. Karena perannya sangat vital maka seorang sulinggih selalu mendalami Mantra, Yantra dan Mudra. Hal ini dilakukan untuk member pelayanan kepada umat dalam melakukan Lokapalasraya sesuai jenis dan tingkatan Yajna.Seorang sulinggih harus memahami makna “air” dan “tirtha”.

Sulinggih sebagai “Sang Penadahan Upadesa” yang selalu memberikan atau menyebarkan pendidikan moral spiritual kepada masyarakat. Terkait dengan tugasnya sebagai Penadahan Upadesa, maka fungsi dari sulinggih adalah sebagai pendidik atau guru yang menjadi nara sumber untuk menuntun umat menuju hidup yang bahagia dan sejahtera. Ilmu yang dimiliki oleh seorang pandita harus lengkap yaitu “Para Widya” (ilmu tentang spiritual) dan “Apara Widya” (ilmu tentang keberadaan dan pengelolaan dunia nyata atau Iptek). Seorang sulinggih harus memiliki kemampuan penguasaan Veda, karena Veda merupakan ajaran yang sangat luas yang meliputi Para Widya dan Apara Widya dan menjadi sumber pedoman hidup manusia. Seorang sulinggih harus memahami perkembangan jaman agar mampu mengarahkan umatnya sesuai dengan perkembangan jaman sehingga umat tidak memiliki kesan kuno dalam penyampaian ajaran Agama Hindu. Seorang sulinggih mau tidak mau harus mendalami tentang “internalisasi agama”, kemajemukan beragama, fanatisme agama, rasionalisme agama, religious literacy atau kemelekan beragama. Seorang sulinggih harus selalu membuka diri untuk berdialog dengan umat sehingga keterbukaan dan toleransi sehingga terwujud kehidupan sosial agama yang pusitif dalam kehidupan sehari-hari.

Satyam brhad rtam ugram diksa ya tapo brahma
Yajna prithivim dharyanti

Atharvaveda 12.1.1

Artinya: sesungguhnya satya, rta, diksa, tapa, brahma dan yajna itulah yang menyangga dunia.

Vratena diksam apnoti, diksayapnoti daksinam,
daksinam sraddham apnoti sraddhaya satyam apyate

Yajurveda 19.36

Artinya: dengan melaksanakan brata, seseorang mencapai diksa, dengan diksa seseorang memperoleh daksina dan dengan daksina seseorang mencapai sraddha, melalui sraddha seseorang mencapai satya.

Melalui proses diksa akan mengantarkan seseorang memiliki kewenangan belajar dan mengajarkan Veda. Melalui pelaksanaan diksa seseorang menjadi Brahmana. “janmana jayate sudrah samskara irdvija ucyate” semua orang lahir sebagai Sudra, melalui diksa/dwijati seseorang menjadi Brahmana.

Dalam Lontar Ekapratama, Sulinggih dikatakan sebagai sebagai “Sang Katrini Katon” yaitu wakil Hyang Widhi di dunia yang terlihat oleh manusia sehari-hari. Sedangkan dalam Kitab Taiteria Upanisad, Sulinggih disebut sebagai “Acharya Dewa Bhawa” artinya perwujudan Dewa di dunia karena kesucian lahir bathin dan dharma bhaktinya kepada manusia di dunia. Oleh karena itu seorang sulinggih sangat diandalkan untuk menjadi pendidik masyarakat. Kewajiban seorang sulinggih antara lain: Arcana (memuja Hyang Widhi setiap hari dalam bentuk Nyurya Sewana), Adhyaya (tekun belajar mendalami Veda, Tattwa, Susila, Upacara), Adhyapaka (suka mengajarkan hal-hal tentang Hyang Widhi dan kesucian), Swadhyaya (rajin belajar hal-hal yang diberikan Nabe), Dhyana (merenungkan Hyang Widhi serta hakekat kehidupan.

author