Tradisi Veda di Bali

No comment 82 views

Budaya dan Tradisi Veda di Bali

BUDAYA, budaya berasal dari kata buddhi dan daya, budhhi berarti intelektual dalam kualitas yang tinggi dan daya berarti kekuatan atau kemampuan. Budaya bermakna kemampuan dari intelektual manusia yang berkualitas tinggi dalam mewujudkan konsep-konsep atau gagasan-gagasan sebagai bentuk blueprint dari suatu penciptaan baik itu dalam hal spiritual maupun material.

TRADISI, Adalah kebiasaan baik yang dihasilkan dari sustu konsep budaya di atas yang di wariskan secara turun temurun dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Tradisi yang benar, adalah di ibaratkan sebuah pohon, dimana dari benih yang sederhana muncul sebuah pohon, kemudian berbunga dan berbuah sehingga memberikan keuntungan besar bagi masyarakatnya.

Tradisi Beragama di Bali adalah tradisi yang benar, karena dari benih weda, kemudian lahir cara beragama, berkesenian, pola tata masyarakat yang tumbuh dan berkembang sehingga tidak meninggalkan akarnya. Hal ini kita bisa lihat dengan nyata, bagaimana tradisi bali kemudian menjadi memiliki kemampuan terus berkembang sehingga memberikan manfaat bagi sebagian besar masyarakatnya.

Semua sistem ritual dan sistem masyarakat bali sudah sangat sesuai dengan Weda. Setelah melalui pengkajian sastra maka Ritual me-agama di Bali adalah mewujudkan Agni Hotra dan Homa Yadnya dalam olah prilaku dan keseharian sebagian besar umat Hindu di Bali.

Dalam setiap upacara pasti memakai api sebagai simbol dewa agni, baik api tetimpug yang di sucikan dengan kekosok dan pebersihan, maupun dipa, maupun pengasepan sebagai Dhuma Ketu atau mahkotanya dewa agni.

Dan setiap upacara pasti menyebut hyang Bhatara agni, Minimal dalam sehe pemangku mengucapkan, Om/Ong singgih paduka bhatara Agni menadi kukus harum sakeng menyan muang majegau...dst...( ini sering saya dengar dari pemangku saat nganturan pengepan.) Jadi Agni Hotra adalah pemujaan terhadap dewa agni yang di mulai dengan Om.

Selanjutnya dalam upacara pastilah ada persembahan pada para dewa. Persembahan pada para dewa penjuru mata angin dan istha dewata, juga Shiwa Sadha Shiwa dan parama Shiwa adalah disebut dengan Homa Yadnya. Homa yadnya adalah persembahan kehadapan para dewa melalui awalan yaitu pemujaan terhadap Dewa Agni.

Jadi di bagian mananyakah Tradisi upacara dan upakara di Bali harus BACK TO WEDA?

Saya rasa tak ada sama sekali. Karena seluruh sistem ritual Bali itu adalah agni hotra dan homa yadnya itu sendiri dalam bentuk prilaku, melalui niyasa-niyasa yaitu banten dan penganteb, baik pandita melalui Jnangni yaitu pikiran yang memahami weda yang dilakukan oleh Ida Sulinggih, pemangku, maupun oleh kepala keluarga

Contoh yang terkecil adalah yadnya sesa. Fungsi yadnya sesa adalah membebaskan seluruh anggota keluarga dari potensi dosa. Sehinga keluarga terbebas dari memakan dosanya sendiri.

3.13

Orang-orang suci menikmati makanan yang terlebih dahulu dipersembahkan sebagai yadnya. Mendapatkan pembersihan dari dosa-dosa. Tetapi bagi dia yang menyiapkan makan hanya untuk pemuasan indera-indera semata, hanya menikmati dosa-dosa beratnya sendiri.

Dan proses makan yang selalu di doakan sebelum makan adalah homa, kenapa karena tersebut dalam bhagawad Gita sebagai berikut:

15.14

Aku adalah vaisvanara (api suci pencernaan) para makhluk hidup. Terletak di dalam setiap badan.

Terpelihara keseimbangannya oleh prana dan apana ( nafas ). Aku mencerna empat jenis makanan.

Jadi Dari hal terkecil maka prilaku Umat Hindu di Bali sudah merefleksikan Agni Hotra dan Homa Yadnya.

Kunda Agni, atau agni hotra melalui kunda. Juga adalah ekspresi weda dan merupakan tradisi weda yang sampai saat ini masih dilakukan di bumi Bharata/ negara India oleh para penganut hindu India. Dan bukan segala-galanya, atau melebihi yang lainnya.

Yang salah adalah, jika Agni Hotra itu di Klaim milik sampradaya. Dan dipakai sebagai suatu promosi untuk menjelek-jelekkan tradisi Bali yang sesungguhnya sama sekali mereka tidak ketahui keluhurannya.

Karena itu saya simpulkan sebagai berikut :

1. Tradisi beragama di Bali tak perlu back to Weda. Melalui iming-iming AGNI HOTRA DAN HOMA YADNYA yang di sampaikan oleh Sampradaya. Karena semua sistem tradisi luhur bali dalam upakara dan upacara sesungguhnya adalah Agni Hotra dan Homa Yadnya itu sendiri.

2. Tradisi Bali adalah sangat luhur. Terbukti dari benih weda kemudian memunculkan berbagai bentuk budaya baru yang sangat adi luhung. Contoh penerapan sama weda dalam warga sari, penerapan gandharva weda dalam tabuh dan tarian, penerapan Dhanur Weda dalam mereringgitan, Jyotisa dalam Pedewasaan, stapatya weda Vastu dalam asta kosala kosali. Dan masih banyak yang lainnya.

3. Apakah kita perlu menentang dan menghina AGNI HOTRA dalam bentuk Kunda Agni ? Itu sangat tidak perlu dilakukan walaupun seolah tidak sesuai dengan Dresta Bali. KENAPA? Karena jika kita menentang Tradisi Weda ala India yang sangat di muliakan di India. Kalau saya ibaratkan maka kita sedang membakar bendera India di Bali.

Ini bisa menimbulkan conflik besar relegius antar negara.

Yang perlu dilakukan adalah menentang propaganda dari para tukang tulukan saang dan hanya tahu swaha saja saat agni hotra yang cuap-cuap bahwa ini yang terbaik. Karena biasanya mereka yang seperti itulah melakukan propaganda yang menghina.

4. Para pelaku Agni Hotra melalui kunda agni sebaiknya melakukan hanya untuk diri anda sendiri saja. Karena yadnya melalui kunda agni menurut sastra weda harus dengan jnana agni. Yaitu melakukan upacara kunda agni dengan melepaskan pikiran terhadap hasil apapun.

Ile-ile dahat apabila melakukan kunda agni dengan niat akan hasil baik maupun buruk. Karena jnanagni atau api jnana adalah pengetahuan sejati hanya untuk Brahman atau Ida Sanghyang widhi. Tidak boleh ada pikiran akan hasil perbuatan.

Makanya Kalau anda mendalami filsafat agni hotra maka anda akan bisa menangkap esensi dari pengetahuan sejati itu, Yaitu apapun dalam karma yang anda lakukan dalam kunda agni hasil akhirnya adalah hanyalah setumpuk abu.

Jika anda belum mampu memahami konsep mendalam dari kunda agni ini sebaiknya anda jangan dulu melakukan agni hotra melalui Kunda. Karena hanya sia-sia belaka.

5. KEPADA SAMPRADAYA NON DRESTA HINDU NUSANTARA, sadarlah bahwa tradisi yang anda pamerkan adalah tradisi kering belaka. Bagimana anda menerjemahkan weda sesuai keagungan tradisi BALI???

Contoh: Tradisi ancrog-ancrog hare Krishna.. apa yang akan lahir dari tradisi anda itu? Selain lama-lama hanya membenturkan umat?

Coba kasi saya contoh: bentuk budaya apakah yang akan anda hasilkan dari starting pemahaman anda, dari bentuk dasar budaya ANCROG-ANCROG ANDA?

Kepada Sai Baba, apa yang akan anda hasilkan dari bhajan gaya india itu? Bukankah esensi Bhajan itu adalah memuja Tuhan/Hyang widhi? Di Bali sudah ada sekar agung, sekar madya juga sekar alit juga palawakia. Ingat bukan karena guru yang hebat maka anda jadi hebat. Tapi karena murid yang hebatlah maka guru anda menemukan esensi kehebatan.

JANGAN BENTURKAN TRADISI LUHUR BALI DENGAN TRADISI LUHUR WEDA YANG SAMPAI HARI INI MASIH DI MULIAKAN MASYARAKAT INDIA!

JIKA ANDA BENAR-BENAR MENGANUT FAHAM AHIMSA MAKA MEMBENTURKAN SUATU TRADISI DENGAN TRADISI LAINNYA ADALAH BENTUK DARI HIMSA KARMA. STOP MELAKUKAN HAL TERSEBUT. SEGERALAH SADAR AKAN KONSEP ANDA SENDIRI.

JIKA ANDA SAAT INI TAK MENGHENTIKANNYA, MAKA GUMI BALI YANG AKAN MENGHENTIKANNYA.

author