banner 728x90

GamaBali

Gama Bali

Merupakan sistim keyakinan bernafaskan hindu Siwa-Budha yang berkembang di Bali. Belakangan ini, Gama Bali lebih dikenal dengan sebutan Hindu Bali, karena dasar keyakinannya adalah agama hindu tetapi sangat teramat kental dengan Budaya Bali. Gama adalah tindakan mengarungi naskah Tuhan, itu berarti pergi hingga kembali Kembali kepada sesuatu yang menjadi asal kita (Brahman/Tuhan).

Sumber Ajaran

Gamabali sering juga disebut gama tirtha dengan kitab sucinya berupa lontar-lontar yang bersumber pada gubahan Itihasa dan Weda Sirah yang merupakan simpulan pemahaman local genius dari Catur Weda (lebih lanjut baca: Sumber Ajaran Gama Bali). Walaupun sumber - sumber ajaran Gama Bali berasal dari kitab - kitab berbahasa Sansekerta, namun sumber - sumber tua yang diwariskan sebagian besar ditulis dalam dua bahasa yaitu Bahasa sansekerta dan Bahasa Jawa Kuno.

Kitab yang di tulis dalam bahasa Sansekerta umumnya adalah kitab Puja, namun bahasa Sansekerta yang digunakan adalah bahasa Sansekerta kepulauan khas Indonesia yang sedikit berbeda dengan bahasa Sansekerta versi India. Sedangkan kitab - kitab yang ditulis dalam bahsa jawa kuno antara lain Bhuwanakosa, Jnana Siddhanta, Tattwa Jnana, Wrhaspati tatwa dan Sarasamuscaya.

Kitab Bhuwanakosa, Jnana Siddhanta, Tattwa Jnana dan Wrhaspati Tattwa adalah kitab - kitab yang Tattwa yang mengajarkan Siwa Tattwa yang mana juga kitab - kitab ini menjadi unsur dari isi Puja. Sedangkan Sarasamuscaya adalah kitab yang mengajarkan susila, etika dan tingkah laku.

Disamping itu juga terdapat banyak lontar-lontar yang menjadi rujukan pelaksanaan kehidupan umat beragama dan bermasyarakat di Bali seperti lontar Wariga, lontar tentang pertanian, pertukangan, organisasi sosial dan yang lainnya. Disamping itu juga terdapat kitab-kitab Itihasa dan gubahan-gubahan yang berasal dari purana, seperti Parwa (MahaBharata), Kanda (Ramayana) dan juga kekimpoi - kekimpoi yang menjadi alat pendidikan dan pedoman dalam bertingkah laku bagi masyarakat.

Itihasa dan juga purana juga menjadi sumber dalam kehidupan berkesenian di Bali terutama kesenian yang masuk kategori Wali atau sakral, seperti wayang, topeng, calonarang dan yang lainnya, yang mana pementasan kesenian tersebut umumnya mengangakat tema cerita yang berasal dari Itihasa, purana atau kekimpoi.

Tidak semua pelaksanaan kehidupan beragama di Bali yang dapat dirujuk kedalam sumber-sumber ajaran sastra agama, yang dikarenakan Gama Bali begitu menyatu dengan Budaya, adat, seni dan segala aspek kehidupan orang Bali, sehingga banyak warisan budaya para leluhur orang Bali yang tetap diwariskan turun - temurun dan menjadi satu keatuan dengan Gama Bali

Gama Bali identik dengan "Tantra" yang kemudian ditopang oleh weda, karena itulah aplikasi keagamaan dibali terkesan berbeda dengan agama hindu lainnya.

"The Sarasamuscaya is the Gita of the Balinese Hindus
Sarasamuscaya adalah Bhagavadgita-nya orang bali penganut agama Hindu (Raghu Vira M.A. PH.D)

SALAM UMAT

Salam yang digunakan oleh umat gama bali apabila membuka kegiatan ataupun bertemu dengan seseorang/kelompok adalah salam panganjali (pembuka) dengan mengucapkan

"OM SWASTIASTU".

salam ini bermakna mendoakan yang ditemui atau lawan bicara agar selalu diberikan kerahayuan, kebahagiaan selama hidupnya. salam ini digunakan saat mengawali sebuah acara atau saat bertemu dengan seseorang/lawan bicara.Khusus dalam mengakhiri sesuatu kegiatan dapat juga memakai

"OM SANTI, SANTI, SANTI, OM" yang artinya semoga damai.

Pada waktu mengucapkan salam, kedua tangan dicakupkan di depan dada dengan ujung jari mengarah ke atas, tetapi kalau keadaan tidak memungkinkan, sikap ini boleh tidak dilakukan. Yang menerima salam seyogyanya memberikan jawaban dengan ucapan "Om Swastiastu" dengan sikap yang sama pula.

"Om" artinya Tuhan, "Su" artinya baik, "Asti" artinya berada, dan "Astu" artinya semoga,

jadi keseluruhannya berarti SEMOGA SELAMAT ATAS RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Dengan demikian maka pada setiap kegiatan telah dilaksanakan saling doa mendoakan satu sama lain.

 

Sejarah Bali

Ajaran Gama Bali atau Hindu Bali yang dianut sebagai warisan nenek moyang di Bali adalah ajaran Siwa Siddhanta yang kadang - kadang juga disebut Sridanta.

Siddhanta artinya akhir dari sesuatu yang telah dicapai, yang maksudnya adalah sebuah kesimpulan dari ajaran yang sudah mapan. Ajaran ini merupakan hasil dari akulturasi dari banyak ajaran Agama Hindu. Didalamnya kita temukan ajaran Weda, Upanisad, Dharmasastra, Darsana (terutama Samkya Yoga), Purana dan Tantra. Ajaran dari sumber - sumber tersebut berpadu dalam ajaran Tattwa yang menjadi jiwa atau intisari Agama di Bali.

Dalam realisasinya, tata pelaksanaan kehidupan umat beragama di Bali juga menampakkan perpaduan dari unsur-unsur kepercayaan nenek moyang. Wariga, Rerainan (hari raya) dan Upakara sebagian besarnya merupakan warisan nenek moyang. Warisan ini telah demikian berpadu serasi dengan ajaran weda sehingga merupakan sebuah satu kesatuan yang bulat dan utuh. Dengan demikian, gama bali mempunyai sifat yang khas sesuai dengan kebutuhan rohani orang Bali dari jaman dahulu hingga sekarang. Di masa sekarang ini, warisan Agama yang adhiluhung tersebut perlu kita jaga, rawat dan menyempurnakan pemahaman kita sehingga tetap bisa memenuhi kebutuhan jiwa keagamaan umatnya.

KERANGKA DASAR GAMA BALI

Ajaran Gama Bali dapat dibagi menjadi tiga bagian yang dikenal dengan "Tiga Kerangka Dasar", di mana bagian yang satu dengan lainnya saling isi mengisi dan merupakan satu kesatuan yang bulat untuk dihayati dan diamalkan guna mencapai tujuan agama yang disebut Jagadhita dan Moksa.

Tiga Kerangka Dasar tersebut adalah:

  1. Tatwa (aturan keagamaan)
  2. Susila (etika keagamaan)
  3. Upakara (praktek keagamaan/yadnya)

 

KEIMANAN GAMA BALI

Pokok-pokok keimanan dan keyakinan orang bali menurut Tattwa ada lima, yang kemudian dikenal dengan istilah Panca Sradha. adapun gambaran singkat dari kelima pokok keimanan gama bali adalah sebagai berikut:

  1. Brahman (Percaya akan adanya Tuhan - Widhi Tattwa)
  2. Atman (Percaya akan adanya Tuhan dalam setiap Mahluk ciptaannya - Atma tattwa)
  3. Karma Phala (Percaya dengan adanya Hukum Sebab Akibat - Surga/Neraka - Karmaphala)
  4. Samsara (Percaya dengan adanya kehidupan kembali, akibat dari Karma Phala - punarbhawa)
  5. Moksa (Percaya dengan lepas dari Hukum Karma maka Atma Akan bersatu dengan Brahman - moksa)

artinya Tuhan (Brahman) adalah yang maha kuasa dan maha pencipta, dengan kuasanya beliau menciptakan ciptaannya dan Mahluk dengan menghembuskan bagian dari dirinya yang disebut Atma (Ruh) yang kemudian dijaga dengan Hukum Karma. bila Atma terikat Hukum Karma maka yang diperoleh hanyalah Surga/Neraka sehingga menimbulkan Punarbhawa (Reinkarnasi) yang terus berulang-ulang dan bila Atma tidak terpengaruh Karma maka dia akan kembali bersatu dengan asalNya yang disebut Moksa.

Lebih lanjut baca: "Panca Sradha"

TUJUAN HIDUP

dari pemaparan diatas, tergambar bahwa SURGA bukanlah tujuan dari Gama Bali, melainkan MOKSA-lah tujuan sejatinya. ini kemudian dikenal dengan istilah

"Moksatam Jagathita ya ca iti Dharma"

yang maksudnya bahwa Tujuan Utama kita adalah menyatu dengan sumber dari segala sumber (moksa), dalam upaya mencapai moksa, diupayakan mencapai kebahagiaan dahulu semasa hidup, baik bahagia dalam keluarga, maupun dalam bermasyarakat dan bernegara. kebahagian di dunia merupakan jalan menuju kebahagiaan abadi (pelepasan).

jadi dalam filosofi gama bali menggambarkan bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dinikmati sendirian, kita yang akan menuju moksa terlebih dahulu harus membahagiakan orang tua (leluhur) dengan memberikan kesempatan beliau yang belum mencapai moksa untuk reinkarnasi, dan mencurahkan tangungjawab selanjutnya dengan membahagiakan keluarga yang merupakan implikasi dari karma (reinkarnasi) tersebut. dalam membahagiakan keluarga sudah tentu dipengaruhi oleh situasi lingkungan dan masyarakat disekeliling kita, sehingga memperhatikan lingkungan juga sangat penting (baik lingkungan masyarakat maupun negara). Dengan  bahagianya keluarga akan mempermudah terlepasnya ikatan duniawi sehingga mempermudah jalannya nanti dimasa wanaprasta dan sanyasin.

CARA MENCAPAI TUJUAN HIDUP

seperti yang telah dijelaskan diatas, tujuan kita hidup adalah untuk mencari kebahagiaan (jagadhita) dan nanti diharapkan mencapai moksa. cara untuk mencari kebahagiaan dalam hidup ini ada 3:

  1. terpenuhi semua tanggungjawab dan kewajiban kita sebagai manusia (dharma)
  2. terpenuhi semua materi yang menunjang hidup kita (artha)
  3. terpenuhi semua cita-cita keinginan kita (kama)

dengan terpenuhi 3 hal diatas, kebahagiaan pasti diperoleh, dan kebahagiaan terus dirasakan semasa hidup akan berdampak pada perjalanan spiritual kita, sehingga tujuan akhir kita akan tercapai yaitu moksa. cara mencapai tujuan hidup ini sering disebut dengan "Catur Purusha Artha"

Lebih lanjut baca: "Catur Purusha Artha"

 

PEDOMAN BERSOSIALISASI

belakangan banyak beredar buku yang menyarankan kita untuk selalu "positif thinking" agar kita bisa lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Positif Thinking merupakan ungkapan yang sering dikatakan oleh orang luar yang lebih diartikan kepada berpikirlah positif pada setiap keadaan, tetapi bagi masyarakat bali yang menyelami gama bali, ungkapan "positif thinking" hanyalah bagian kecil dari landasan yang mendasari masyarakat bali bersosialisasi, ini sudah menjadi fondasi kehidupan. adapun landasan dasar dalam menurut Susila/Etika menjalani kehidupan yang lebih dikenal dengan istilah Tri Kaya Parisudha, yaitu:

  1. Manacika, Berpikir yang baik (positif tihinking)
  2. Wakica, berbicara yang sopan, ramah dan sesuai norma (dharma)
  3. Kayika, berbuat dan berprilaku yang baik, sewajarnya dan selalu menjunjung dharma

jadi, tidak hanya berpikir positif saja, dalam menjalani kehidupan untuk mencapai jagadhita, ucapan dan perbuatan juga perlu diperhatikan.

Lebih lanjut baca: "Tri Kaya Parisudha"

KONSEP KESEIMBANGAN

konsep yang sangat dikenal, yaitu Tri Hita Karana, yang selalu menjadi acuan dalam setiap melangkah, yang menjadikan manusia sebagai titik fokus, sebagai penentu kedepannya. Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara:

  1. Manusia dengan Tuhannya (Parhyangan)
  2. Manusia dengan alam lingkungannya (Palemahan)
  3. Manusia dengan sesamanya (Pawongan)

Dengan menerapkan Tri Hita Karana secara mantap, kreatif dan dinamis akan terwujudlah kehidupan harmonis yang meliputi pembangunan manusia seutuhnya yang astiti bakti terhadap Sanghyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada kelestarian lingkungan serta rukun dan damai dengan sesamanya.


Top